Inovasi Energi Ramah Lingkungan: Pemanfaatan Sekam Padi Jadi Briket Alternatif Desa Kutajaya
Mahasiswa KKN UNSIKA bersama warga Desa Kutajaya menghadirkan inovasi briket sekam padi sebagai energi alternatif ramah lingkungan. Melalui pelatihan sederhana, sekam padi diolah menjadi briket yang hemat, minim polusi, serta berpotensi membuka peluang ekonomi bagi masyarakat desa.
KKN Kutajaya
2 min read
Kembali ke daftar artikel
Kutajaya, Karawang -- Dulu, sekam padi hanya dibiarkan menumpuk atau bahkan dibakar sembarangan.
Kini, limbah ini justru dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif yang baik untuk lingkungan. Inovasi ini dilakukan oleh para mahasiswa KKN dari Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) bersama warga Desa Kutajaya dalam program Briket Sekam Padi: Energi Alternatif dari Limbah Pertanian.
Program ini muncul karena adanya dua masalah utama: banyaknya sekam padi yang tidak dimanfaatkan dan praktik pembakaran terbuka yang merusak lingkungan. Dari sisi lain, kebutuhan warga akan energi yang murah dan bersih juga menjadi alasan utama adanya inovasi ini. Melalui pelatihan dan latihan langsung, warga diperkenalkan teknologi sederhana berupa alat pembakaran berupa drum yang digunakan untuk mengubah sekam menjadi arang.
Arang tersebut kemudian dihaluskan, dicampur dengan bahan perekat alami seperti tepung kanji atau tapioka, lalu dicetak menggunakan cetakan berukuran 3x3 cm. Hasilnya adalah briket lingkungan yang bisa digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak sehari-hari.
"Kami ingin memberi alternatif nyata yang bisa langsung digunakan warga, terutama ibu ibu," ujar salah satu mahasiswa KKN. Proses pembuatannya menyenangkan dan bahan-bahannya banyak ditemukan di sekitar rumah. Sekam dikedurkan, dibakar tidak sempurna untuk menghasilkan arang, lalu dioleh menjadi briket yang bisa langsung digunakan atau dijual.
Program ini tidak hanya untuk sementara. Petani lokal terlibat sebagai pemasok bahan baku, sementara kelompok ibu-ibu dan kelompok tani turut serta dalam pelatihan. Forum Anak Desa Kutajaya juga dilibatkan dalam menyebarkan pencerahan lingkungan kepada anak-anak. Selain mengurangi polusi dan limbah, briket sekam juga memberi peluang tambahan pendapatan bagi warga.
"Kalau bisa dikembangkan lebih lanjut, bisa dipasarkan keluar desa juga. Banyak yang masih pakai kayu atau gas, padahal ini lebih hemat dan tidak berasap," kata salah satu ibu peserta pelatihan. Program ini juga mendapat dukungan penuh dari para perangkat desa dan tokoh masyarakat, yang melihat potensi besar dari energi alternatif lokal ini.
Dengan inovasi ini, Desa Kutajaya semakin maju dalam menerapkan praktik lingkungan yang ramah dan mendukung kemandirian energi berbasis komunitas.
Kini, limbah ini justru dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif yang baik untuk lingkungan. Inovasi ini dilakukan oleh para mahasiswa KKN dari Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) bersama warga Desa Kutajaya dalam program Briket Sekam Padi: Energi Alternatif dari Limbah Pertanian.
Program ini muncul karena adanya dua masalah utama: banyaknya sekam padi yang tidak dimanfaatkan dan praktik pembakaran terbuka yang merusak lingkungan. Dari sisi lain, kebutuhan warga akan energi yang murah dan bersih juga menjadi alasan utama adanya inovasi ini. Melalui pelatihan dan latihan langsung, warga diperkenalkan teknologi sederhana berupa alat pembakaran berupa drum yang digunakan untuk mengubah sekam menjadi arang.
Arang tersebut kemudian dihaluskan, dicampur dengan bahan perekat alami seperti tepung kanji atau tapioka, lalu dicetak menggunakan cetakan berukuran 3x3 cm. Hasilnya adalah briket lingkungan yang bisa digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak sehari-hari.
"Kami ingin memberi alternatif nyata yang bisa langsung digunakan warga, terutama ibu ibu," ujar salah satu mahasiswa KKN. Proses pembuatannya menyenangkan dan bahan-bahannya banyak ditemukan di sekitar rumah. Sekam dikedurkan, dibakar tidak sempurna untuk menghasilkan arang, lalu dioleh menjadi briket yang bisa langsung digunakan atau dijual.
Program ini tidak hanya untuk sementara. Petani lokal terlibat sebagai pemasok bahan baku, sementara kelompok ibu-ibu dan kelompok tani turut serta dalam pelatihan. Forum Anak Desa Kutajaya juga dilibatkan dalam menyebarkan pencerahan lingkungan kepada anak-anak. Selain mengurangi polusi dan limbah, briket sekam juga memberi peluang tambahan pendapatan bagi warga.
"Kalau bisa dikembangkan lebih lanjut, bisa dipasarkan keluar desa juga. Banyak yang masih pakai kayu atau gas, padahal ini lebih hemat dan tidak berasap," kata salah satu ibu peserta pelatihan. Program ini juga mendapat dukungan penuh dari para perangkat desa dan tokoh masyarakat, yang melihat potensi besar dari energi alternatif lokal ini.
Dengan inovasi ini, Desa Kutajaya semakin maju dalam menerapkan praktik lingkungan yang ramah dan mendukung kemandirian energi berbasis komunitas.
Bagikan artikel ini: